“17 Januari kita bertemu…menjalani kisah cinta ini…naluri berkata engkaulah… milikku..”
Lagu karangan tambahan ’11 Januari’ oleh Glen Fredly
menemani malamku ini
Hi apa kabar dirimu nan jauh disana?
Disini aku masih di jalan menembus biru tuanya langit ,
menunggu dengan tenang untuk kembali ke negeri kanguru
Anehnya, tak ada yang bisa aku pikirkan selain dirimu di
ruangan terkunci ini.
Aku disini. Engkau disana. Terkunci dalam kenangan yang
belom bisa aku putus, karena hati masih mengenang hangatnya dirimu dalam
dekapku.
Memang semuanya ini salahku, siapa suruh membuat cerita
tentang indahnya kenangan kita. Aku kembali terjerumus dan tenggelam dalam
cerita masa lalu yang terlalu indah untuk dilupakan dan menyakitkan untuk
diingat karena aku tak bisa bertemu dengamu sama seperti dulu.
Maafkan aku bila diriku masih mengikatmu seperti ini. Aku
tahu ini bukan yang engkau inginkan bagaimana kita berakhir. Kita sudah sepakat
bahwa kita berakhir menjadi teman dekat, Menjadi teman yang bisa kita andalkan
setiap hari seperti layaknya saudara satu orang tua.
Namun aku kembali menganggu hidupmu dengan gelora kangen di
hati dan terpancing dengan mudahnya melalui foto profilmu dan kata2 modus yang
kau siratkan dalam percakapan kita.
Engkau tahu betapa childishnya diriku, betapa posesifny
diriku padamu. Betapa inginnya diriku menjadi yang terbaik buat dirimu. Kadang
aku cemburu ketika kamu mengungkit akan mantanmu, tapi sekarang kurasakan
susahnya menghilangkan akan cinta pertama. Kau lah yang pertama bagiku. Pertama
kalinya kumenemukan cinta yang bertentangan dengan ideal ku selama ini. Kau
orang pertama yg berbeda agama denganku. Orang pertama yang berbeda umur
denganku. Orang pertama yang menerimaku apa adanya dan ingin membahagiakan
diriku. Ku melihatmu dimana-mana dan kuhanya bisa tersenyum dengan bayangan-bayangan itu.
Ku tak tahu mimpi apa aku malam itu untuk jatuh cinta pada
wajahmu yang polos dan awet muda itu. Tapi yang kutahu untuk pertama kalinya ku
menemukan bahwa realitas lebih indah daripada alam mimpi. Ku bersyukur cinta
datang kepada kita. Kuharap kau merasakan hal yang sama.
Selama ku di negeri K-Pop ini, ku telah banyak membuka
diriku pada orang lain melalui cerita cinta kita. Cerita yang kuceritakan
dengan kejujuran. Hari-hari itu tidaklah mudah. Ku selalu bersandar di
pekarangan, membayangimu di sampingku. Tapi kau menutup diri. Hanya kaos ungumu yang menyelimutiku dalam
dinginnya malam, membayangi bahwa kehangatan itu berasal darimu.
Ingatkah dirimu saat kita pertama kali menyadari bahwa kita
telah jadian?
Ingatkah dirimu saat ku mencium manisnya bibirmu di publik
dengan sekejap?
Ingatkah dirimu akan kencan pertama kita seharian melewati
hutan kehidupan dan terpesona akan indahnya dari atas bukit?
Ingatkah dirimu akan tangan kita bergandengan di mobil kemanapun
pada suatu malam, bersama dengan yang lain, kita duduk di belakang dan dirimu
menaruh kepala di pundakku?
Ingatkah dirimi ketika dirimu jatuh cinta untuk kedua
kalinya dan memamerkan lekuk tubuhmu dengan menggendongku menuruni bukit senja?
Dan yang terakhir, ingatkah dirimu ketika hatimu penuh luka
dan sedih, aku menculikmu melihat luasnya antariksa dan tempat yang
mengingatkanmu akan masa kecilmu?
Ingatkah dirimu?
Cerita kita tidaklah semuanya sempurnya tapi entah kenapa
aku tidak bisa mengingat akan kejelekan dan amarah kita. Setidak sempurnanya
kita, tak ada yang bisa kuingat selain senyuman dan harumnya tubuhmu
menyelimuti hatiku yang dingin ini.
Engkaulah MANTAN TERINDAH-ku dan aku ingin itu menjadi
gelarmu di hatiku selalu. Ku berharap itu menjadi gelarku juga di batinmu.
Kepribadianmu lah yang sekarang menjadi patokanku unutk mencari jodohku kelak.
Another Scorpion yang bisa aku dramakan. Drama romantis tentunya yang seperti
kuperlihatkan padamu.
Mohon maaf bila selama ini aku merepotkanmu. Begitu
banyak alasan yang ku lontarkan padamu seperti kerjaku, wisudaku, dan kemarin
yang membuatmu jengkel untuk pertama kalinya padaku.
Aku minta maaf.
Aku tidak sempurna dan setiap orang mengambil keputusan yang
salah ketika mereka stress, takut, maupun jatuh cinta. Semoga hal yang lalu
tidak membuatmu kapok untuk bermain ke tempatku dan bertemu denganku lagi. Aku
kan mencoba menjadi orang yang berbeda saat bertemu denganmu kelak. Walau itu
berat tapi hal itu sudah merupakan perjanjian kita.
Perjanjian yang dikarenakan akan cintaku pada 2 orang yang
mengasuhku jauh tak bisa kuingkari . Aku tahu engkau mengerti , tapi sejujurnya
aku kadang tidak mengerti akan pilihanku sendiri. Aku tak yakin apakah pilihan
ini yg tepat. Apa ini hanya perasaan sementara? Apakah waktu akan menyembuhkan
lubang ini secepatnya seperti dirimu padaku?
Maaf bila aku telah membuatmu gerah dengan tingkah lakuku
sehingga membuatmu menunjukkan akan kesalahanku terhadap orang lain. Hanya
beberapa orang yang melihat jati diriku yang sebenarnya. Jati diri yang hanya
kuperlihakan saat aku sedang gila. Dan kegilaan itu datang saat aku jatuh
cinta.
Ya aku jatuh cinta padamu! Aku jatuh terlalu dalam akan
semua yang berikan padaku. Perlindungan, pengajaran, kasih saying, dan
cinta. Jika engkau membaca tulisan ini
pasti berantakan dan tidak beralur. Tak ada rekayasa drama,yakinlah bahwa
hatiku yang berbicara.
Aku tak tahu bagaimana nanti aku akan melihatmu bahagia
dengan orang lain. Namun aku ingin berada di sampingmu selalu saat engkau
mengalami kebahagiaan itu. Sama seperti engkau ada di sampingku di saat diriku
bahagia. Kutahu engkau juga sakit saat itu, tapi cintamu begitu besar untuk
rela memupuk rasa sakit itu demi melihat senyuman di wajahku.
Tapi hari terus berlalu. Ku kembali melihat tulisanku ini dan banyak kata-kata yang ingin kutarik.
Ku mengamati kembali tulisanku sendiri dan banyak sekali melukiskan ego dan amarah yang kulontarkan untuk memberi kesan pembenaranku. Padahal yang ku mau adalah melihat kebahagiaanmu.
Aku akhirnya sadar.
Aku menyerah bukan karena aku tak sayang tapi aku berharap engkau menemukan seseorang yang dapat membahagiakanmu lebih daripadaku.
Kamu adalah seorang yang spesial tapi sering disakiti oleh para lelaki. Kini saatnya dirimu menemukan seseorang yang terbaik untukmu.
Aku tak tahu bagaimana aku akan bertindak bila melihatmu dengan orang lain, tapi akan aku endure semua itu supaya kamu tidak mengingatku seperti mantanmu yang hanya berlalu.
Tapi hari terus berlalu. Ku kembali melihat tulisanku ini dan banyak kata-kata yang ingin kutarik.
Ku mengamati kembali tulisanku sendiri dan banyak sekali melukiskan ego dan amarah yang kulontarkan untuk memberi kesan pembenaranku. Padahal yang ku mau adalah melihat kebahagiaanmu.
Aku akhirnya sadar.
Aku menyerah bukan karena aku tak sayang tapi aku berharap engkau menemukan seseorang yang dapat membahagiakanmu lebih daripadaku.
Kamu adalah seorang yang spesial tapi sering disakiti oleh para lelaki. Kini saatnya dirimu menemukan seseorang yang terbaik untukmu.
Aku tak tahu bagaimana aku akan bertindak bila melihatmu dengan orang lain, tapi akan aku endure semua itu supaya kamu tidak mengingatku seperti mantanmu yang hanya berlalu.
Ku harap engkau menemukan seseorang yang memudarkan wajah awetmu sehingga hilanglah rasa tertarikku padamu. Namun bila wajah itu itu tetap bertahan, ku akan akan tahu bahwa engkau belum bertemu dengan yang tepat.
Aku ingat bagaimana dulu engkau berpikir ingin menulis akan
diriku dalam blogmu kelak. Namun sayang kalo saya mendahuluimu dalam
mencurahkan isi hati dalam media sosial ini.
Tapi aku setia menunggu tulisanmu akan aku. Mungkin hal itu
akan membawaku ke langit ketujuh tapi yang terpenting bagiku adalah mengetahui
bahwa dulu aku sangat berarti bagimu. Terima kasih.
Aku kadang berharap bila engkau mau menungguku saat aku siap
akan semuanya dan melamarmu di negera sebelah. Namun kutahu bahwa umurmu sudah
waktunya untuk menikah dan aku tak mau egoku membuatmu terluka lagi.
Mungkin sebaiknya begini. Melihat dan bercanda denganmu itu sudah cukup bagiku.
Walau tak janji aku akan kembali meneteskan sungai tapi ku ingin melihatmu tersenyum. Itu saja.
Terima kasih buat semuanya CINTA.
Terima kasih buat semuanya CINTA.
It was short but it was beautiful.
Love you forever and ready to move on.
Berondong cakepmu

No comments:
Post a Comment